Contoh Cerpen


Pecahan Senilai dan Rasio

Pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dengan pasangan bilangan cacah a/b, dimana b adalah bukan bilangan 0. Sedangkan pecahan senilai merupakan pecahan yang mewakili kuantitas yang sama dengan angka yang berbeda, sebagai contoh; 2/3 senilai dengan 4/6.

Sama seperti kehidupan, ketika sebuah resolusi yang sudah dibentuk, untuk  mencapai sebuah tujuan yang sama, maka harus memiliki banyak tujuan untuk mencapai resolusinya. Jadi, belajarlah dari sebuah pecahan, yang mampu membagi sama rata. Jika, pada akhirnya kamu gagal mencapai sebuah tujuan kamu, apa yang akan kamu lakukan? Menyerah atau hanya pasrah begitu saja. Ketika buntu menemukan jalan keluar karena semua orang mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang kamu lakukan.

Pernahkah berpikir adanya rasio? Pernahkah belajar rasio? Di sinilah peran rasio dibutuhkan. Ketika kehidupan yang sangat menyulitkan dan membuat hidup ini terasa berat, rasio datang dan membantu kita. Rasio adalah perbandingan multipikatif dari dua buah kuantitas atau ukuran. Bandingkan kehidupan-kehidupanmu. Bandingkan apa yang kamu punya dengan mereka-mereka yang tidak punya. Bandingkan saat kamu berani mengambil resiko dengan kamu tidak mengambil resiko. Semua akan berbeda. Belajarlah dari pecahan dan rasio, semua memiliki hubungan yang akan membantu kamu menemukan jalan keluar.

Sama seperti kisah Rena. Namanya Adifa Renandra, seorang sisiwi SMK yang kini sedang gencar-gencarnya mencari PTN. Maaf, ini bukan kisah bad girls yang bertemu dengan bad boy. Ataupun bad girls yang menjadi most wanted karena kecantikan dan kepandaiannya. No, semuanya real. And, this is fact. Rena hanya siswi yang sedang menunggu kata LULUS di lembaran pengumuman yang akan diterimanya nanti. Keadaan yang mendesaknya untuk kuliah, keadaan juga yang mendesaknya untuk memikirkan bagaimana cara Rena untuk menghadapi kerasnya dunia persaingan. Seperti biasa, Rena duduk di gazebo sekolahnya. SMK Semawung, adalah tempatnya sekolah. Jangan ditanya seperti apa SMK Semawung, SMK Semawung adalah SMK negeri yang favorit. Jadi, jaringan WiFi dapat terakses dengan mudah di laptop Rena.

Pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri. Kata kunci itu yang ditulis di laman web browser. Seketika deretan universitas ternama muncul memenuhi layar laptop Rena. Rena melihat satu persatu universitas tersebut. Membukanya satu persatu, dan membacanya dengan teliti. Maklum, Rena adalah siswa kelas XII Akuntansi 4 yang sudah melaksanakan Ujian Nasional. Yah meskipun Rena tahu, nilai UN nya tidak akan berpengaruh di pendaftaran Perguruan Tinggi nya nanti.

"Kamu jadi kuliah?" tanya seorang siswi kepada temannya yang lewat di samping Rena.

"Jadi dong. Kemarin aku udah lulus SNMPTN, jadi besok aku tinggal daftar ulang saja," katanya.

"Di PTN mana?"

"Jogja."

Seketika Rena menghela napas berat. Beberapa waktu lalu memang sudah ada pengumuman tentang SNMPTN. SNMPTN adalah jalur udangan untuk masuk ke PTN dengan nilai raport semester 1-5 yang diakumulasikan. Rena menyesal karena saat kelas X dan XI kemarin dia tidak serius sekolah. Dia jauh-jauh untuk sekolah di sini, tapi faktanya Rena tidak serius. Rena menyesal. Penyesalan Rena pertama adalah tidak sekolah dengan baik, penyesalan kedua untuk saat ini adalah tidak masuk kategori SNMPTN. Jika ditulis dalam bentuk pecahan maka hasilnya adalah 1/2. Satu tujuan yang pecah menjadi 2 penyesalan.

Rena kembali mengabaikan ucapan temannya tadi. Toh mereka sudah lewat. Rena kembali fokus pada layar laptopnya, mencoba fokus pada PTN yang kini akan dia ambil.

"Kamu mau kuliah atau kerja?" tanya siswi yang lewat lagi di samping Rena. Seketika tangan Rena berhenti menggerakkan kursor laptopnya. Fokus Rena terpecah ke siswi yang mengucapkan kata itu. Rena memasang telinga dan mendengarkan secara seksama, ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan temannya.

"Aku kerja aja deh," jawabnya.

"Serius?" tanya temannya.

"Iyalah, di SMK kita itu udah ada BKK atau Bursa Kerja Khusus. Nah harusnya kita fungsikan BKK itu dengan baik. Toh kalau kita kuliah juga akan kalah sama anak-anak SMA. Basic kita itu dilatih untuk bekerja bukan untuk kuliah," jelasnya.

"Iya juga si, kita anak SMK bisa apa?"

"Bisa si kuliah, tapi kuliah gak jamin sukses juga kan? Ya udah kerja aja."

Rena menutup matanya, memijit pelipis kiri untuk merilekskan pikirannya. Serendah itu pikiran manusia? batin Rena.

"Hayo! Ngalamun apa!" teriak seorang siswa yang udah ada di hadapan Rena sambil membawa es teh.

"Reno! Bikin kaget aja ih!" kesal Rena sambil memegang dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.

Reno Mahardika, teman Rena yang satu jurusan beda kelas. Rena akuntansi 4 sedangkan Reno akuntansi 3. Anaknya tinggi, kulitnya kuning langsat, dan yang pasti dia pintar. Rena mengakuinya. SMK Semawung adalah sekolah Bisnis dan Manajemen jadi kebanyakan siswanya adalah cewek. Sedangkan Reno adalah 1 dari 19 cowok yang ada di SMK Semawung di angkatan Rena.

"Lagian ngalamun aja. Ada apa?" tanya Reno.

"No, aku bingung mau kuliah," kata Rena.

"Jadi dari tadi ngalamun cuma mikir itu?" tanya Reno.

Rena menganggukkan kepala. "No, kamu tahu kan?"

"Tahu apaan?" Reno mengerutkan keningnya tanda bingung. Pasalnya Rena belum mengatakan apa-apa dari tadi.

Rena kemudian menutup laptopnya. Kali ini Rena akan bercerita dengan Reno, mungkin dengan bercerita kepada Reno akan membuat Rena menjadi lebih fresh lagi pikirannya. Daripada hanya membuka laman atau website PTN yang membuat nyali jadi ciut.

"Kamu tahukan kalau kuliah itu penting?" tanya Rena.

"Iya aku tahu." Reno mengangguk dan menyetujui pendapat Rena.

"Lalu, kenapa orang-orang selalu menganggap bahwa anak SMK itu selalu di bawah SMA!" kata Rena yang sedikit kesal.

"Kata siapa?"

"Aku barusan dengar ada yang bilang kaya gitu. Mereka bilang apa gunanya kuliah, toh gak akan menjamin kita untuk sukses," jelas Rena.

"Dan sekarang kamu gak setuju sama kata-kata itu?" tanya Reno.

"Ya siapa si yang setuju sama kata-kata kaya gitu?" kata Rena.

"Gimana kalo aku setuju?" Rena langsung menatap Reno dengan tatapan bingung.

"Kamu setuju?" Kali ini Reno mengangguk.

"Kok bisa?"

"Begini, Ren. Bilangan cacah itu banyak gak?" tanya Reno.

"Masih tanya lagi, banyak Reno."

"Masing-masing bilangan cacah punya arti sendiri-sendiri gak?"

"Punya, Reno. Angka 1 sama angka 2 aja beda."

"Nah, sama kaya manusia, Ren. Mereka juga punya prinsip sama komitmen yang beda. Mereka yang mau kuliah pasti punya prinsip, mereka yang gak kuliah dan memilih untuk kerja juga punya prinsip," jelas Reno.

"Iya juga si. Tapi kan gak perlu bawa-bawa anak SMK selalu dibawah anak SMA," kata Rena yang masih belum terima.

"Kalau itu si aku juga gak setuju. Sebenarnya dimana pun mereka sekolah ataupun kuliah ataupun kerja, yang menentukan sukses tidaknya ya cuma dirinya sendiri. Bukan almamater ataupun institusi yang terbilang tinggi," kata Reno.

Rena mendengarkan ucapan Reno dengan sangat baik. Berkali-kali dia membenarkan ucapan Reno.

"No, apa mereka-mereka yang kuliah atau yang kerja punya pikiran jangka panjang ya?" tanya Rena.

"Pasrah amat tanyanya, Neng." Reno tertawa melihat wajah Rena yang sangat lucu. Terlihat sangat jelas di wajahnya kalau Rena sedang dilanda kebingungan.

"Reno! Aku serius?" kata Rena yang langsung manyun.

"Hehehe." Reno hanya meringis memperlihatkan rentetan giginya sambil mengangkat tangan membentuk hurufV.

"Begini, Ren...." Yes, Abang Reno mulai menjelaskan. Perhatikan dengan baik. "Semua yang sudah dipilih pasti punya rencana, udah pasti itu enggak mungkin enggak. Benar begitu?" Rena menganggukkan kepalanya.

"Tergantung orang itu punya komitmen atau enggak untuk mewujudkan mimpinya. Nah, pernah dengar istilah pecahan kan?" tanya Reno.

"Pecahan?" Reno mengangguk.

"Ibaratnya gini, kamu punya satu roti, dan kamu harus membaginya ke dua anak. Kamu harus gimana?" tanya Reno.

Ren, aku butuh pencerahan bukan soal matematika,’  batin Rena.

"Ya membaginya sama rata. Biar adil.” Akhirnya Rena memilih untuk menjawab pertanyaan dari Reno. Biar Abang Reno mau melanjutkan kata-katanya.

"Nah, prinsip pecahan itu adalah adil. Jika satu dapat segini, satunya lagi juga harus dapat segini. Sama kaya prinsip manusia, Rena. Untuk mencapai tujuannya, orang itu harus punya resolusi atau tahapan yang dia kejar," kata Reno.

"Reno... Jangan bikin aku tambah pusing dong," keluh Rena.

"Ini kan pakai perumpamaan biar kelihatan kaya Mario Teguh nya gitu," kata Reno.

"Tapi otak aku jadinya full,Udah penuh ini. Udah merah ditambah siraman qolbu dari kamu, tambah not respond nanti."

"Dengerin dulu makanya. Abang Reno belum sampai ke intinya."

"Ya udah lanjut!"

"Langsung ke contoh aja ya? Contoh nyatanya adalah kamu, Rena...."

"Kok aku?" Rena langsung memotong ucapan Reno.

"Diem dan dengerin dulu!" Rena hanya nyengir melihat wajah Reno yang kesal.

"Tapi...."

"Aku tinggal pulang lama- lama kamu!" kesal Reno.

"Hehehe iya deh maaf. Silakan lanjutkan." Rena mempersilakan Reno untuk melanjutkan ucapannya.

"Kamu pengin kuliah. Iya kan?" Rena mengangguk dan membenarkan ucapan Reno.

“Lebih tepatnya desakan orang tua juga,” tambah Rena.

"Otomatis kamu punya banyak cara untuk mencapai tujuan kamu. Enggak afdhol dong kalau kamu cuma pakai satu cara. Emang kamu yakin satu cara itu bisa bawa kamu ke PTN yang kamu pilih? Enggak kan?"

"Enggak lah, aku punya banyak rencana," kata Rena.

"Nah, ada bolpoin sama kertas?" tanya Reno.

"Ada nih." Rena memberikan buku catatan dan bolpoin standar kepada Reno.

"Anggap saja lingkaran ini adalah tujuan kamu ya. Yaitu diterima di PTN. Sekarang apa aja yang akan kamu lakukan untuk mencapai PTN itu?" tanya Reno.

"Belajar, les privat, ikut try out, banyak-banyak latihan, sama berdoa," jawab Rena.

"Ada lima kan?" Rena mengangguk.

"Secara otomatis lingkaran ini akan terbelah menjadi lima. Masing-masing akan kamu isi dengan belajar, les privat, ikut try out, latihan, sama berdoa. Benar?" Lagi-lagi Rena mengangguk.

"Sudah terbagi jadi berapa?" Tanya Reno.

"Lima."

"Benar sekali. Kemudian, apakah dari ke lima ini kamu gak akan bagi sama rata. Misal, ah aku mau belajarnya aja yang setengah, sisanya bisa buat les privat, ikut try out, sama berdoa. Ah, aku mau berdoa aja yang aku banyakin, atau ah aku malas melakukan semuanya, enggak mungkin kan?" kata Reno sambil tersenyum.

"Mungkin si yang terakhir," kata Rena sambil tertawa.

"Beda lagi ceritanya kalau kamu malas."

Rena hanya tertawa simpul mendengar jawaban Reno. "Lanjut, No. Aku mulai paham."

"Jadi, ke lima ini pasti akan kamu lakukan sama rata. Intinya kamu udah punya tujuan, kamu udah punya komitmen, jadi apapun harus dilakukan. Lakukan sama rata. Fifty-Fifty ya bahasanya. Sampai sini jelas?" Rena menganggukkan kepalanya lagi.

"Terus gimana kalau kita udah melakukan semua itu dengan sama rata, tapi hasilnya zonk! Kan sakit?" kata Rena sambil geleng-geleng kepala.

"Gak usah dramatis juga kali, Ren. Sekarang ambil contoh temen kamu yang mau kerja deh. Kalau mereka gak keterima di PT gimana?" tanya Reno.

"Cari PT lain," jawab Rena.

"Kalau ketolak lagi."

"Cari lagi. Kan PT banyak."

"Nah, sama kaya kamu. Kalau kamu gak diterima pakai cara SBMPTN, kamu bisa pakai cara SM atau Seleksi Mandiri. Tapi kalau kamu emang udah bener-bener gak bisa keterima di PTN itu, ya kamu harus merelakan atau mencoba tahun depan," jelas Reno.

"Coba tahun depan ya?" Rena mulai lesu dengan kata tahun depan.

"Gak harus di PTN kok kuliah, PTS juga bagus. Malah kadang PTS bisa lebih unggul dari PTN. Ya meskipun namanya lebih melejit PTN. Sebenarnya kuliah dimana aja sama, gak harus di negeri, emang si ada rasa bangga saat ada orang yang tanya, kuliah dimana? Kita gak perlu malu untuk jawab. Tapi, yang perlu diketahui, sukses itu tidak memandang PTN atau PTS. Semua orang berhak meraih sukses. Asalkan kita mau berusaha. Jangan kecewa kalau nanti tulisan di website kita adalah mohon maaf bukan kata selamat.

Tidak semua yang sekolah di swasta itu adalah orang-orang bodoh. Bahkan, orang-orang yang tidak kuliah saja bisa menyaingi orang yang kuliah. Contoh nyatanya, penemu Microsoft, Bill Gates, dia tidak mengenyam bangku kuliah, bahkan dia keluar sewaktu sekolah SMA. Kemudian, penemu Aplle, Steve Jobs. Apa dia juga kuliah? Tidak kan. Tapi mereka mau merubah dunia. Bahkan, karya-karyanya sampai sekarang masih dinikmati. Berapa kali dalam sehari kamu log in facebook? Sering kan? Jangan minta dunia merubahmu, tapi harusnya dirimu yang mau merubah dunia. Jadi, jangan kebesaran gengsi. Kuliah itu bukan untuk ajang gengsi, Ren. Kamu kuliah karena kamu butuh. Kamu kuliah karena kamu memang memerlukannya. Percuma kamu kuliah di PTN tapi skill kamu nol. Aku juga kaya kamu, gak keterima SNMPTN. Kamu juga tahu itu. Sekarang aku mendaftar di PTS yang ada di Jogja kan? Kamu juga tahu itu. Bukan aku gak mau masuk ke PTN, tapi bagi aku kita sama-sama merasakan pendidikan yang sama. Sebenarnya, yang membedakan hanya institusi dan almamaternya saja." jelas Reno panjang lebar.

"Berasa ceramah beneran aku, Ren," kata Reno yang kemudian menyeruput es teh yang tadi dibelinya sebelum bertemu dengan Rena.

"No, gimana kalau SBMPTN atau SM aku gagal?Apa aku harus mengulang tahun depan?" tanya Rena.

"Boleh-boleh aja. Asal ada perbandingannya."

"Perbandingan?"

"Pernah belajar rasio kan?"

"Elah, No. Hidup kamu penuh rumus matematika ya!" kata Rena.

"Karena matematika itu ilmu yang mengajarkan kita tentang hidup, Ren."

"Terserah deh! Lanjut." Rena mengalah saja daripada nanti Reno gak selesai-selesai.

"Kamu tahu rasio kan?"

"Iya tahu, perbandingan."

"Nah, setelah tadi ada pecahan dan sekarang perbandingan atau rasio. Tahu kenapa kamu juga harus belajar rasio?" tanya Reno. Rena menggelengkan kepala. Rena memang paham dengan pembelajaran rasio, tapi untuk pembelajaran di kehidupan sehari-hari Rena enggak tahu.

"Kamu harus membandingkan saat kamu harus kuliah di PTS atau menunggu satu tahun lagi. Kalau kamu yakin kamu bisa mengejar dan diterima di PTN, kamu bisa menggunakan waktu 1 tahunmu. Tapi, apa kamu yakin kamu akan lolos atau diterima? Bagaimana kalau waktu 1 tahun kamu hanya untuk menunggu saja? Bukan maksud mau promosi PTS ya? Ini cuma amit-amit aja kalau kamu gak diterima di PTN. Karena sejujurnya kuliah dimana saja itu sama."

"Iya No iya, aku tahu. Hmmm... bener si yang kamu katakan."

"Coba kamu bandingkan, saat kamu harusnya sudah masuk ke semester III, tapi kamu masih harus berjuang untuk mengejar PTN yang kamu idamkan. Oke kalau kamu diterima, kalau tidak? Kamu sudah menghabiskan waktu satu tahunmu hanya untuk menunggu kabar selamat di website. Kamu sudah tertinggal satu langkah dengan temanmu.

Kemudian, kamu memilih untuk kuliah di PTS pada akhirnya, alhasil kamu masih harus duduk di bangku semester I. Saat kamu semester V teman-teman mu sudah banyak yang mengerjakan skripsi. Kamu sudah tertinggal dua langkah. Bukankah begitu? Saat teman-teman kamu memegang toga dan slempang dengan gelarnya, kamu sedang berjuang dengan skripsi. Kamu tertinggal tiga langkah. Tapi, semua itu kembali lagi ke diri kamu, Rena. Semuanya ada di dirimu," jelas Reno.

"Berarti saat aku tidak diterima di PTN aku harus rela melepas mimpiku untuk kuliah di PTN dan kuliah di swasta?" tanya Rena.

"Kembali ke awal lagi ya? Semua itu tergantung kamu, semua ada di tangan kamu. Jadikan semuanya perbandingan. Bandingkan saat kamu kuliah di PTN dan di PTS. Semuanya sama-sama kuliah, semuanya mendapatkan materi yang sama. Hanya dosen dan almamater yang membedakan. Tapi, saran aku ya? Kamu kejar dulu yang PTN, lakukan seperlima kamu biar jadi satu harapan, yaitu tulisan selamat. Aku yakin kamu bias, Rena!" kata Reno.

Rena menghela napas pelan. Memikirkan kata-kata Reno sambil melihat gambar lingkaran yang dibelah menjadi lima. Seperlima  yang akan menjadi satu harapan.

Aku harus menggapainya. Benar yang dikatakan Reno, batin Rena.

"Semua ada di diri kamu. Kamu yang menentukan jalan. Aku yakin jalan yang kamu ambil adalah jalan yang benar-benar sudah kamu pikirkan. Seperti yang aku katakan tadi, tidak ada keputusan yang salah. Karena kegagalan itu bukan suatu kesalahan, melainkan pengalaman yang akan mengajarkan kita tentang suatu keberhasilan," kata Reno sambil menepuk bahu Rena.

"Uhhh Abang Reno Teguh," kata Rena tertawa.

"Oke, kali ini aku paham. Aku akan berjuang, apapun yang terjadi. Sekarang, aku tidak akan menilai mereka-mereka yang akan kerja atau kuliah. Aku tidak akan membedakan mana yang negeri dan mana yang swasta. Benar yang kamu katakan, mereka punya kehidupan yang mereka pikirkan sendiri. Aku hanya harus berjuang mewujudkan seperlima itu. Terima kasih Reno, udah mau ngasih aku solusi. Maaf, tadi aku sempat bilang anak SMK di bawah anak SMA, padahal harusnya aku bersyukur aku sekolah di sini. Tempat favorit yang belum tentu semua orang bisa masuk," kata Rena.

"Sama-sama, Rena." Reno sedikit lega melihat Rena kembali menjadi Rena yang semangat dan ceria.

"Beli siomay Bang Rustam yuk. Aku yang bayarin deh."

"Seriusan nih?"

"Iya, Reno."

"Sebentar.” Rena membereskan buku dan laptopnya terlebih dahulu. Memasukkannya ke dalam tas.

"Ayo!" Rena dan Reno kemudian pergi meninggalkan gazebo untuk menuju kantin.

Semua bukan tentang mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, semuanya tentang siapa yang berani mengambil resiko dan berani mencoba tanpa takut gagal. Karena kegagalan adalah langkah awal untuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Bukan hanya sekedar menjadi manusia yang lemah dan takut akan kegagalan. Belajarlah dari matematika, karena disitu akan ada makna kehidupan yang sesungguhnya. Boleh merasa lelah, tapi jangan pernah menyerah. Karena menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Menulis itu Penting?

Lakukan ini Ketika Kamu Malas Menulis!

Teknik Menulis Untuk Pemula